Fakta industri pangan dan pertanian indonesia

            Mungkin anda termasuk satu dari jutaan rakyat Negara ini yang bingung dengan kondisi industri pertanian dan pangan di Negara ini. Alasannya sederhana kenapa Negara ini harus mengimpor komoditas pertanian mulai dari beras, kedelei, singkong, bawang putih kentang bahkan sampai garam. Well dude anda pasti shock bukannya Negara kami adalah salah satu Negara tersubur di dunia dan memiliki luas laut yang ga abis diminum tujuh turuan. Artikel ini berusaha memaparkan fakta-fakta mencengangkan industri pertaniaan pangan dan tetek bengeknya. Dijamin anda akan sedikit shock karena kita semua berkontribusi terhada hancurnya industri ini.

  1. Hampir tidak ada yang bercita-cita menjadi petani.

Guys coba amati buku kesan pesan dari TK sampai kuliah, dan temukan kira berapa ekor kah anak muda negeri ini yang menuliskan cita2 nya menjadi petani. Jawabannya sedikit atau malah tidak ada. Ya hampir semua anak2 muda Negara ini bercita menjadi artis, olahragwan , dokter, engineer ataupun presiden. Coba Tanya ke teman anda kenapa hampir tidak ada yang mau menjadi petani jawabannya sederhana. Pertama capek, kedua pendapatan kecil, bikin kulit item(padahal aslinya sudah hitam dari lahir)  dan ketiga anda akan kehilangan kesempatan bertemu denga wanita yang mempunyai paras seperti putri indonesia. Ini tidak sepenuhnya salah tetapi tidak 100% benar. Itu adalah paradigma pertanian di abad revolusi industri. Coba tengok daftar 10 orang kaya di Negara ini, dan akan menemukan wilmar bersaudara yang punyai duit hamper miliaran  dollar(ini duit bukan daun lho). Mereka berdua ini kaya dari hasil sawit nya mantabs kan. Artinya bahwa petani tidak bisa kaya  adalah salah. Kondisi ini juga  makin diperkeruh dengan fakta bahwa sebagian besar lulusan jurusan pertanian kurang berminat bekerja di bidang pertanian.

  1. Industri pangan yang berbasis bahan baku impor.

Faktor kedua adalah bahwa mayoritas industri pangan kita memang berbasiskan bahan baku import. Ambil contoh mie instan, bahan baku utama mie instan adalah gandum yang di import dari amerika. Gandum juga ini adalah bahan utama tepung terigum dan konyolnya sedari kecil kita sudah dibiasakan untuk memakan makanan yang berbasiskan terigu. Terigu adalah bahan baku utama semua jenis roti, gorengan, mie ayam dan bahkan donuts kesukaan kita. Jadi secara tidak sadar kita juga ikut berpartisipasi untuk menaikkan angka impor gandum. Apalagi terutama mahasiswa yang hobi makan mie instan dan gorengan kontribusinya bisa dianggap kuadrat. Tenang selain terigu ada masih banyak loo makanan sehari2 kita yang memakai bahan import mulai dari tahu tempe  dengan kedelainya, daging sapi atau buah buahan dan masih banyak lagi. Oh ya jangan lupa Negara kita adalah pengimpor beras terbesar di asia. Padahal dulunya nenek moyang kita di tahun 1970 an sangat tidak tergantung dengan makanan impor. Sebagai contoh orang papua dan Maluku sekarang ini dipaksa untuk memakan nasi sebagai pengganti sagu padahal kan memang alam disana sudah menyediakan sagu dan umbi umbian sebagai makanan pokok. Contoh lain hampir semua orang sekarang lebih memilih apel atau jeruk impor disbanding buah buahan lokal,  mungkin biar ketularan pinter kayak enstein . dan konyolnya apel ini hanya cocok di tanama daerah subtropis, alhasil kita harus mengimport dengan jumlah besar. oh ya ini tidak termasuk apple cowak itu loo😀. jadi mulai dari sekarang kalo anda mau membeli makanan telitilah dahulu, usahakan untuk memperbanyak konsumsi makanan lokal kita.

  1. Rendahnya riset di bidang pertanian

Dijaman angry bird  ini industri pangan dan pertanian mutlak memerlukan riset andal untuk mampu manjawab tantangan memberi makan untuk 6 miliar manusia . Di Indonesia Negara yang ku cintai, riset di bidang pertanian boleh dibilang sangat terlambat dan kurang banyak. Jadi mikir apa sih di Negara ini yang maju pesat ada sinetron😀. kembali ke topik, hampir semua Negara yang maju pertaniannya sudah pasti di dukung oleh riset yang keren. Sebagai perbandingan di Indonesia satu hektar sawah akan menghasilkan 5 -8 ton gabah sedangkan di thailand dan jepang bisa mencapai 15 ton he he. Jadi ga heran kan kalo Thailand yang luasnya sama kayak pulau jawa bisa ekspor beras kemana-mana. Contoh lain hasil rendeman tebu saat ini jauh lebih rendah dibanding saat jaman belanda hah are you serius. Kalo ga percaya baca aja disini(http://www.bisnis.com/articles/cirebon-pesimis-capai-target-lahan-kebun-tebu-rakyat). Jadi mulailah  dari sekarang sebisa mungkin membantu riset industri pertanian . Caranya sederhana ya ambil riset yang nyerempet bidang pertanian atau kalo ga motivasi teman2 anda yang kuliah di jurusan pertanian agar mau sekolah lagi .mosok rata2 mahasiswa Indonesia ambil S2 dan s3 nya rata2 memilih jurusan elektro, komputer dan MBA.

  1. Kartel industri pertanian

Dimana-mana namanya industri betujuan menghasilkan keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil mungkin. Jadi ga usah sakit hati kalo kartel industri pertanian mengusai pertanian kita, la wong mereka punya modal, pinter jelas R&D nya rock guys, dan punya organisasi yang keren. Kalo istilah orang jawa timur ga usah ngeroweng. Ambil contoh di bidang peternakan kartel jepang, korea dan Thailand mengusai mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari bibit anakan ayam, vaksin, pakan ternak sampai produk jadinya. Akibatnya para peternak hampir tidak pernah menikmati keuntungan yang besar. Contoh dari berkuasanya kartel ini adalah kasus pak kucor ini(http://api.or.id/2010/08/26/hentikan-kriminalisasi-petani-pemulia-benih-bebaskan-pak-kunoto-kuncoro-dari-penjara/).  Oh ya sebagai tambahan produsen sosis yang bintang iklannya para pemain bola dan boyband itu adalah salah satu dari 3 PMA ini. Saya pikir ini usaha mereka untuk mebrainwash semua orang agar makan sosis sudah cukup berhasil, terbukti anak SD dan TK  sekarang lebih suka makan sosis dibanding jajanan lain semacam es dawet atau gado2. Kartel industri pertanian ini memang berperan besar dalam usaha untuk mempopulerkan bahan pangan mereka yang jalas kurang cocok di kembangkan di Negara tropis kita . ambil contoh industri peternakan sapi, sebagia besar sapi ini didatangkan dari Negara lain. Kalaupun di ternakkan indukkan dan bibitnya juga impor dari sana. Kenapa kita tidak membiasakan untuk mengkonsumsi bahan pangan lokal kita misal sapi bali atau diganti dengan daging kerbau atau lebih menambah konsumsi ikan. Jangan lupa Indonesia adalah Negara lautan terbesar di dunia yang sebagian besar ikannya di ekspor ke asia timur nah loo. Nah bagamana langkah kita dong, hanya satu mulai sekarang aya rame2 bikin industri star up company  di bidang pertanian agar bisa menyaingi, Cargill, monsato, Nestle, JAPFA dan chiel.

  1. Alih lahan yang tidak terkendali

Salah satu faktor utama penghancur pertanian adalah alih lahan yang tidak terkendali kususnya di pulau jawa. Sebagai contoh karawang yang  dulunya adalah lumbung padi nasioanal akan tetapi karena makin banyaknya industri disana membuat terancamnya produksi beras di sana. Dan lebih konyolnya padi sebagai sumber makanan pokok di Negara ini hanya bisa ditanam di jawa, bali , sebagian Sumatra, papua dan Sulawesi.alhasil berkurangnya lahan pertanian di jawa akan memiliki multiplier effect terhadap ketahanan pangan nasional. Sebenarnya pemerintah sudah berusaha untuk menanam padi di luar jawa, sebagai contoh program lahan gambut sejuta hektar yang gagal. Idealnya industri ini dibangun di sumatera dan kalimanta selain masih banyak tanah kosong, deket sumber energi dan yang terpenting tanah disana memang tidak cocok untuk bertani selain sawit. Sebagai solusi instan usahakan setelah lulus kuliah kalo bisa carilah kerja di luar jawa dan bali untuk mengurangi beban 2 pulau ini.

Sebagai penutup kalo ada berita banyaknya impor hasil pertanian jangan serta merta memaki pemerintah kita. mari kita renungkan kata kata bung hatta ini: hanya ada satu Negara ku, Negara ku ini tumbuh dengan perbuatanku.

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Fakta industri pangan dan pertanian indonesia

  1. Morni Kasila says:

    ohhh begituu_ pertanian penting untuk bangsa kita…
    http://morni_kasila.student.ipb.ac.id/

    • tsulusun says:

      iya Pertanian adalah salah satu fundamental ketahanan negara, coba liat bagaimana besarnya subsidi pertanian di negara2 maju. meskipun secara GDP ndan tenaga kerja kontrribusi pertanian tidak sampai 20 %

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s